Pengabdian pada Guru oleh Lama Zopa Rinpoche PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 5047

Lama Zopa Rinpoche memberikan ajaran ini di Institusi Aryatara, Jerman, 7 April 2001

Lama Zopa Rinpoche gave this teaching at Aryatara Institute, Germany, 7 April 2001

Setiap orang dari kita memiliki tanggung jawab universal. Bila kalian memiliki hati yang baik, cinta kasih – kasih sayang, kemudian dalam kehidupan sehari-hari, makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya termasuk orang-orang di sekitarmu, hewan, serangga, dan bahkan semua makhluk hidup tidak menerima celaka darimu.

Bila kalian mengembangkan hati yang baik, cinta kasih – sayang, tidak hanya makhluk hidup lain yang tidak menerima celaka darimu, mereka juga menerima manfaat dan bantuan.

Tidak adanya celaka berarti kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup ini, kebahagiaan dalam semua kehidupan yang akan datang dan manfaat utama dalam membawa semua makhluk hidup menuju kebebasan sepenuhnya dari samudera penderitaan samsarik dengan menghilangkan penyebabnya, delusi dan karma.

Every one of us has universal responsibility. If you have a good heart, loving kindness-compassion, then in your daily life, numberless living beings, including the people around you, animals, insects, in fact, all other living beings, do not receive harm from you.

If you develop a good heart, loving kindness-compassion, not only do other sentient beings not receive harm from you, they also receive benefit and help.

That absence of harm means peace and happiness in this life, happiness in all the coming future lives, and the ultimate benefit of bringing all sentient beings into total liberation from the entire ocean of samsaric sufferings by ceasing its cause, delusion and the karma.

 

Tidak hanya itu, tetapi dengan memiliki kasih sayang, kalian memberikan manfaat bagi makhluk hidup lain dengan membawa mereka ke kebebasan besar, kondisi tanpa kesedihan yang kekal dari pencerahan penuh, yang merupakan berhentinya tidak hanya yang kesalahan kasar tetapi juga kesalahan halus dari pikiran, pencemaran halus dari Saya, agregat dan semua fenomena lain sebagai ada secara inheren, jejak negatif yang halus yang memproyeksikan halusinasi, pandangan mendua, dari penampakan keberadaan yang inheren. Berhentinya semua ini adalah kebebasan besar.

Karena itu, dengan mengembangkan kasih sayang, kalian mengumpulkan pahala yang ekstensif, dan melalui hal ini kalian juga dapat mengembangkan kebijaksanaan dan menghentikan semua pencemaran. Dengan cara ini, kalian dapat membawa semua makhluk hidup menuju kebahagiaan yang tak tertandingi dari pencerahan sepenuhnya.

Karena itu, kalian dapat melihat bagaimana kalian dapat membawa berbagai tingkatan kebahagiaan kepada makhluk hidup lain. Jadi apakah makhluk hidup yang tak terhitung ini menerima semua kebahagiaan ini darimu adalah di tanganmu sendiril hal ini tergantung dengan apa yang kau lakukan dengan pikiranmu.

Terserah kalian apa yang kalian lakukan dengan pikiran kalian – apakah kalian menggenerasikan hati yang baik, cinta kasih-sayang, bagi semua makhluk hidup atau tidak. Karena itu, setiap orang dari kita memiliki tanggung jawab penuh bagi kebahagiaan semua makhluk hidup dari kebahagiaan sementara hidup ini sampai pencerahan sepenuhnya.

Memenuhi tanggung jawab ini untuk membawa kebahagiaan dan manfaat bagi makhluk lain adalah tujuan dari hidupmu, alasan kalian hidup. Agar dapat membebaskan makhluk hidup yang tak terhingga dari penderitaan mereka dan penyebabnya, dan membawa mereka semua kebahagiaan sampai dengan pencerahan penuh, untuk mencapai karya yang sempurna bagi semua makhluk hidup, pertama-tama kalian harus mencapai pencerahan penuh juga.

Agar dapat menyembuhkan semua penyakit makhluk lain, untuk memberi mereka kebahagiaan kebebasan dari penyakit, kalian perlu menjadi dokter yang berkualifikasi, mengetahui bagaimana mendiagnosa penyakit dan berbagai pengobatan.

Dengan cara yang sama, maka, untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan dan penyebabnya dan membawa mereka menuju kebahagiaan yang tak tertandingi dari pencerahan, pertama-tama kalian harus tercerahkan sepenuhnya. Tentu saja, menjadi tercerahkan tidak terjadi tanpa sebab – kalian dapat menjalani jalan menuju pencerahan.

Karena itu, tanpa menciptakan sebab, menyelesaikan jalan umum, kalian tidak dapat mencapai pencerahan. Dan juga jalan ini harus bukan merupakan jalan yang salah; bila ini adalah jalan yang salah, kalian tidak dapat mencapai pencerahan.

Lebih jauh lagi, kalian harus menyelesaikan jalan yang tidak salah. Hanya memiliki beberapa kesadaran tidaklah cukup bagimu untuk mencapai pencerahan. Kalian harus menyelesaikan semua kesadaran dari jalan menuju pencerahan.

Sekarang, mencapai pencerahan penuh tergantung dari menjalani jalan makhluk dengan kapasitas terbesar. Hal ini tergantung dari mengaktualisasikan, sebagai awal, jalan dari makhluk dengan kapasitas sedang dan jalan biasa. Dan hal ini tergantung dari mengaktualisasikan, sebagai persiapan, jalan dari makhluk dengan kapasitas terendah dan jalan biasa.

Keberhasilan dari awal jalan – jalan yang dilalui oleh makhluk dengan kapasitas terkecil, yang dimulai dari kesadaran dari kelahiran manusia yang sempurna, tubuh manusia yang berharga ini berkualifikasi atas delapan kebebasan dan sepuluh kekayaan – sampai akhir, pencerahan, tergantung pada akar dari jalan menuju pencerahan, pertama-tama menganalisa guru yang berpotensi dan ketika menemukan yang benar, mengabdikan dirimu kepadanya dalam pikiran dan tindakan.

Dalam penjelasannya mengenai Lima Puluh Bait Pengabdian Pada Guru, Lama Tsongkhapa menjelaskan kualitas berbeda dari guru tergantung dari berbagai ajaran yang dia kutip (lihat Pemenuhan Semua Harapan, Wisdom Publications, 1999, h. 41. Lihat juga penjelasan Geshe Ngawang Dhargye di sini: http://www.lamayeshe.com/otherteachers/dhargyey/index.shtml).

Menurut satu penjelasan, sang guru harus [1] memiliki pengabdian yang stabil pada ajaran Mahayana, [2] terpelajar dalam tingkatan yang beragam dari ajaran – Kendaraan Kecil, Paramitayana, dan tantra – [3] menjadi ahli dan bijaksana dalam membimbing murid dalam melalui jalan menuju pencerahan, [4] memiliki kasih sayang yang besar bagi orang lain dan [5] takluk dalam tiga pintu tubuh, perkataan, dan pikiran. Satu set lima kualitas dijelaskan seperti itu.

Kemudian dalam Mahayanasutralamkarakarika, Maitreya Buddha Buddha Maitreya menjelaskan sepuluh kualitas guru Mahayana. Tiga pertama yang disebutkan adalah memiliki ketiga pintunya [1] takluk, [2] damai dan [3] sangat damai.

Yang pertama berarti pelatihan yang lebih tinggi dalam moralitas – berhenti dari kejahatan, melindungi dirinya dari menciptakan karma negatif. Yang kedua, mendamaikan, yang berarti telah mengendalikan pikirannya, pikiran yang mengganggu, dengan mengembangkan shamatha, kesadaran dari ketenangan kekal; dengan kata lain, setelah mendapatkan pelatihan yang lebih tinggi dalam konsentrasi. Yang ketiga, sangat damai, berarti memiliki kesadaran dari pandangan besar, kekosongan; pelatihan kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Yang keempat dari sepuluh kualitas adalah [4] memiliki pengetahuan yang lebih besar dan kualitas lebih tinggi daripada sang murid. Dia juga [5] memiliki ketahanan dan [6] pikiran sucinya harus diperkaya dengan pengertian kitab suci dan aliran dari ajaran. Dia juga [7] memiliki kesadaran akan kekosongan.

Walaupun kesadaran ini telah disebutkan sebagai kualitas ketiga, di sini hal ini secara spesifik berarti memiliki kesadaran akan kekosongan menurut pandangan Prasangika, yang tertinggi dari empat sekolah filosofi Buddha. Yang terdahulu menyebutkan pandangan besar berarti kesadaran akan kekosongan menurut sekolah ajaran Buddha; di sini berarti secra spesifik, pandangan Prasangika.

Tiga kualitas yang tersisa adalah [8] keahlian dalam menjelaskan Dharma, [9] kasih sayang bagi muridnya dan [10] tidak pernah merasa putus asa atau kecewa untuk menjelaskan Dharma, untuk membimbing dan memberikan manfaat bagi murid. Bila ada kasih sayang yang kuat, tidak mungkin pikiran merasa malas atau terlalu lelah untuk membimbing murid akan muncul.

Dan juga, seperti yang disebutkan dalam Guru Puja (Lama Chöpa) dan teks lainnya, ada kualitas lebih jauh dari sang guru yang mengungkapkan ajaran tantrik – sepuluh kualitas luar dari guru yang mengajar tantra rendah dan sepuluh kualitas dalam dari guru yang mengajar Tantra Yoga Tertinggi.

Akan tetapi, esensi dari semua kualitas ini adalah sang guru harus menekankan menghargai makhluk lain. Bila sang guru tidak membimbing murid-muridnya untuk menghargai orang lain, hal ini menjadi kesulitan dalam mengembangkan hati yang baik dan mengaktualisasikan bodhicitta, kesadaran diperlukan untuk memasuki jalan Mahayana menuju pencerahan.

Tetapi bila sang Guru tidak menekankan hal ini, paling tidak dia harus menekankan kebebasan dari samsara, pencapaian dari kebahagiaan yang utama dan kekal. Dan bila tidak, paling tidak dia harus menekankan pada kebahagiaan kehidupan yang masa datang lebih penting dari kehidupan ini. Ini adalah dasarnya – lebih penting untuk bekerja demi kebahagiaan kehidupan yang akan datang daripada kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Bila sang guru tidak menekankan hal ini, tindakan sang murid untuk mempraktekan Dharma tidak akan menjadi Dharma. Apapun yang mereka lakukan – meditasi, ret-ret, dan aktivitas lainnya – ada bahaya bahwa mereka akan membuang seluruh kehidupan mereka.

Apapun yang mereka lakukan tidak akan menjadi Dharma, tidak akan menjadi kebaikan. Setiap hal yang mereka lakukan akan dilakukan dengan keterikatan, ketidak-baikan, hanya mencari kebahagiaan di kehidupan ini. Apapun yang dilakukan sang murid – meditasi, doa, ke-dua-puluh-empat aktivitas menjadi ketidak-baikan, karma negatif.

Ini adalah bahaya memiliki guru yang tidak mengajar pentingnya bekerja untuk kehidupan mendatang daripada kehidupan ini. Kalian dapat membuang seluruh hidup kalian bila guru kalian tidak menekankan ketidak-terikatan dari kesenangan dalam hidup ini dan untuk bekerja demi kebahagiaan jangka panjang, kebahagiaan dari semua kehidupan mendatang tidak hanya kebahagiaan dalam satu kehidupan mendatang tetapi semua kehidupan mendatang.

Jadi, apakah sang guru ditahbiskan atau awam, esensinya adalah siapa yang menekankan hal-hal ini, khususnya bodhicitta. Dengan cara ini, sang guru dapat membawa sang murid menuju pencerahan.

Dengan menekankan kebebasan dari samsara, sang guru akan membawa sang murid menuju pencerahan. Dengan menekankan pelepasan keterikatan, tidak terikat pada kehidupan ini, dan menekankan untuk bekerja bagi kebahagiaan semua kehidupan mendatang, sang guru memperbolehkan sang murid untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan mendatang. Ini adalah bagaimana beragam guru membimbing murid-muridnya.

Kualitas fundamental lainnya adalah seorang guru perlu menekankan etika, moralitas. Dengan cara ini, sang guru dapat membimbing sang murid untuk menjauh dari karma negatif dan melindungi sang murid dari menciptakan karma negatif, kesulitan utama dari mencapai pencerahan, kebebasan dari samsara dan kebahagiaan dari kehidupan mendatang.

Sangat penting, karena itu, pada awal, sebelum membangun hubungan Dharma dengan seorang guru, untuk menganalisa orang tersebut dengan baik. Setelah berpikir dengan baik, kemudian membangun hubungan Dharma. Ajaran tantrik menjelaskan bahwa pada jaman kemerosotan seperti ini, sulit untuk mencari guru yang memiliki semua kualitas seperti yang dijelaskan dalam ajaran.

Bila ini adalah halnya, masih saja, guru kalian harus memiliki kedelapan hal ini, atau lima, atau paling tidak empat. Paling tidak sang guru akan memiliki kualitas dasar yang saya sebutkan sebelumnya. Hal ini akan membantu kalian menghindari masalah di masa depan, menghindari menciptakan karma negatif yang sangat berat, seperti menyebarkan desas-desus, kemarahan, banyak pikiran negataif, dan juga, setelah membangun hubungan, melepaskannya. Memeriksa dengan hati-hati akan membantumu untuk menghindari bahaya ini.

Arti dari Guru

Pikiran suci dari semua buddha, Dharmakaya, kebijaksanaan transenden dari kebahagiaan dan kekosongan non-dualisme, yang kekal, yang tidak memiliki awal atau akhir, yang menembus semua keberadaan – adalah makna sebenarnya dari guru.

Ketika kalian memikirkan guru kalian, ketika kalian memvisualisasikan guru kalian, ketika kalian melihat guru kalian, ketika kalian mendengar guru kalian, ini adalah apa yang harus ada dalam pikiran dan hati kalian. Ketika, dalam kehidupan sehari-hari kalian melihat, mendengar, memvisualisasikan atau mengingat guru kalian, makna sebenarnya, atau pengertian, harus datang ke pikiran kalian. Katanya adalah guru, tetapi makna sebenarnya adalah ini.

Ketika kalian memiliki kesadaran yang stabil mengenai pengabdian pada guru, selalu di hati kalian, pengakuan kalian pada guru adalah ini. Dari sisi murid yang memiliki kesadaran stabil mengenai pengabdian pada guru, ketika kalian melihat atau berpikir mengenai Buddha, ini adalah Guru kalian.

Tidak ada Buddha lain, tidak ada Buddha yang terpisah dari guru kalian. Kalian tidak melihat hal ini. Kesadaran kalian adalah satu kesatuan Guru dan Buddha. Bahkan ketika kalian memvisualisasikan diri kalian sebagai Buddha, ini adalah guru. Karena kalian ada dewa, sang Guru. Bahkan ketika kalian memvisualisasikan dewa di hadapan kalian, ini adalah guru. Pengertian ini ada di hatimu.

Bahkan bila kalian melihat patung dan thangka, kalian berpikir, “Guru saya telah bermanifestasi dalam bentuk ini untuk membuat saya dapat membersihkan pikiran saya dan mengumpulkan pahala.”

Dan juga, ini adalah cara yang mudah untuk membersihkan dan menciptakan pahala. Hal ini tidak tergantung pada kalian menggenerasikan motivasi yang baik; hal ini terjadi tanpa pikiran kalian menjadi Dharma.

Bahkan bila motivasi kalian bukan Dharma, hanya dengan melihat, mengelilingi, bersujud kepada, memberikan persembahan kepada obyek suci ini, dengan segera tindakanmu menjadi sebab untuk pencerahan, kebebasan dari samsara, kebahagiaan untuk ratusan dari ribuan kehidupan mendatang.

Bila ini adalah halnya, maka tidak ada pertanyaan bahwa pahala yang kuat juga mempengaruhi kehidupan ini. Karena kalian membersihkan banyak karma negatif, tentu saja, ia mengurangi masalah dalam hidup ini – masalah hubungan, penyakit, kanker, dan hal sejenisnya.

Akan tetapi hanya dengan ada, obyek suci ini juga membuat mudah bagi kita makhluk hidup untuk menciptakan pahala dan mempurifikasi pikiran kita. Dengan kebanyakan aktivitas lain, pertama-tama kita memberikan usaha besar untuk membuat pikiran kita Dharma – murni, tidak tercemar oleh kebodohan dan keterikatan dan, khususnya, pikiran menghargai diri sendiri. Hanya setelah kita memberikan usaha besar tindakan kita menjadi kebaikan dan menghasilkan kebahagiaan. Dengan cara ini, kita harus bekerja keras untuk kebahagiaan.

Tetapi keberadaan obyek suci membuat mudah bagi kita makhluk hidup untuk mempurifikasi karma negatif kita dan mengumpulkan pahala ekstensif, menciptakan ruang dalam pikiran kita untuk membuat kita mendapatkan kesadaran dari jalan menuju pencerahan.

Hal yang harus dimengerti di sini adalah semua obyek suci ada melalui kebaikan sang guru. Mereka membuat mudah bagi kita untuk mempurifikasi karma negatif dan pencemaran, mendapatkan kesadaran dan kebebasan dari samudera penderitaan samsarik dan mencapai pencerahan yang dikarenakan kebaikan guru yang bermanifestasi dengan cara ini.

Kalian dapat mengerti atau menyadari hal ini dengan mengerti makna dari guru adalah Dharmakaya, pikiran suci dari semua buddha – semua obyek suci yang terjadi karena kebaikan guru yang bermanifestasi dalam aspek ini untuk membebaskanmu dari samsara dan membawamu menuju pencerahan.

Bila guru absolut, Dharmakaya, semua pikiran suci buddha, bermanifestasi dalam aspek yang lebih murni daripada apa yang bisa saya lihat, dalam aspek yang lebih murni daripada apa yang diperbolehkan karma untuk saya lihat, saya tidak dapat melihat aspek ini sampai saya melihat pikiran saya lebih murni daripada yang sekarang.

Sekarang ini, pikiran kalian sangat kabur dan walaupun Guru Shakyamuni Buddha, Nagarjuna, Lama Tsongkhapa dan semua makhluk tercerahkan telah menjelaskan jalan lengkap dan tidak adanya Saya yang ada secara inheren – tidak ada Saya yang sebenarnya, ada dari sisinya sendiri, tidak ada hal seperti ini; hal seperti ini tidak ada dan hal seperti ini tidak ada; saya tidak ada, kosong, di sana, dari mana ia nampak dari mana ia nampak sebagai yang sebenarnya, ada dari sisinya, ini sama sekali tidak ada; hal ini tidak ada di sana, kosong sepenuhnya di sana – walaupun semua makhluk tercerahkan menjelaskan dengan menganalisa kalian tidak dapat menemukan Saya, ia kosong sepenuhnya, masih saja kalian tidak dapat melihat, tidak dapat menyadari, kebenaran dari sini. Walaupun ini adalah realitas, pikiran kalian tidak dapat melihatnya; kalian tidak dapat melihat bahwa ini adalah kosong.

Begitu juga, semua obyek tidak memiliki satupun atom yang ada secara inheren. Mereka, juga kosong sepenuhnya. Tetapi kalian bahkan tidak dapat melihat kekosongan ini.

Walaupun semua fenomena penyebab bersifat tidak permanen, mereka tidak ada bahkan selama satu menit atau satu detik, selalu dalam kondisi membusuk, kalian tidak dapat melihat atau menyadari mereka seperti ini. Kalian sangat buram sehingga kalian tidak dapat melihat apa yang akan terjadi besok, dalam waktu satu jam, bahkan dalam waktu satu menit. Untuk hal seperti ini, pikiran kalian sangat gelap.

Bahkan bila kalian memiliki penyakit dalam tubuh kita, kalian harus pergi ke rumah sakit untuk di X-ray untuk melihatnya. Kalian bahkan tidak dapat melihat bagian belakang tubuh kalian. Seperti yang dulu sering dikatakan His Holiness Song Rinpoche ketika berbicara mengenai reinkarnasi, hanya karena kalian tidak melihat bukan berarti ia tidak ada. Kalian tidak dapat melihat sesuatu sebagai alasan bahwa itu tidak ada. Sebagai contoh, dia akan berkata.

Kalian tidak bisa melihat bagian belakang kepala kalian. Bukankan ini berarti ia tidak ada?

Pikiran kalian sangatlah buram. Ada banyak fenomena yang ada tetapi tidak dapat kalian lihat. Karena itu, semua pikiran suci buddha, guru yang absolut, terikat dengan kasih sayang yang tak terhingga yang merangkulmu dan semua makhluk hidup, bermanifestasi dalam aspek biasa, yang dalam definisi memiliki delusi, sebagai tubuh yang menderita, tindakan yang salah dan seterusnya.

Dharmakaya bermanifestasi seperti ini dan melalui aspek ini memberikan penjelasan, transmisi oral, sumpah – pratimoksha, bodhisattva dan tantrik – inisiasi dan ajaran tantrik. Di Tibet, kita dulu berkata bahwa bila kalian belajar alfabet untuk mempelajari Dharma, orang yang mengajar kalian alfabet juga adalah guru, manifestasi dari Dharmakaya.

Bahkan satu bait transmisi oral, satu stanza ajaran, dapat membawa kalian menuju pencerahan. Dengan meninggalkan jejak positif, hal ini dapat menyebabkan kalian untuk mengerti ajaran dan menyadari aspek dari jalan yang ada di dalamnya; bait ini dapat menghentikan pencemaran tertentu dan membawa kalian menuju pencerahan. Satu bait transmisi oral yang diberikan oleh guru tersebut sudah pasti dapat membawamu menuju pencerahan. Karena itu, tidak ada pertanyaan bahwa ajaran lain yang lebih ekstensif juga seperti itu.

Karena itu, meditasi yang dilakukan pada saat ini adalah berpikir, bila ini bukan merupakan tindakan Buddha, membimbing saya menuju pencerahan, maka tidak ada tindakan lain yang dapat saya tunjuk karena Buddha membebaskan saya dari penderitaan dan membawa saya menuju pencerahan.

Jadi ini sudah pasti merupakan aktivitas Buddha; aktivitas dari Dharmakaya. Ini adalah satu alasan untuk digunakan dalam meditasi, untuk menyadari bahwa tindakan ini adalah tindakan Buddha; untuk kalian sadari dari sisi kalian, dari sisi murid, dari ini adalah tindakan Buddha.

Juga berpikir, “Bila guru ini bukan Buddha, karena saya melihat kalian sebagai biasa, karena saya melihat kesalahan dalam diri mereka” – kalian mungkin melihat kesalahan kecil dan dalam beberapa kesalahan besar dalam diri orang lain, tetapi kalian melihat kesalahan dalam diri mereka semua. Kemudian, bila tidak ada dari guru ini yang merupakan Buddha, bila mereka adalah makhluk biasa, bila ini adalah makhluk biasa yang membawa saya menuju pencerahan, apa yang dilakukan Buddha?

Mereka tidak melakukan apa-apa; para buddha hanya diam. Para buddha tidak melakukan apa-apa untuk saya tetapi makhluk biasa ini sangat bermanfaat dengan melakukan semua aktivitas ini, dengan memberikan ajaran, sumpah, dan seterusnya, semua hal ini sudah pasti dapat membawa saya menuju pencerahan. Makhluk biasa ini membawa saya menuju pencerahan tetapi para buddha tidak melakukan apa-apa untuk membawa saya menuju pencerahan. Ini adalah kesimpulan yang kalian dapatkan.

Kemudian kalian berbuat kesalahan dalam berpikir, apa yang terjadi dengan para buddha? Apa yang salah dengan mereka? Bila tidak ada dari guru ini yang merupakan buddha dan aktivitas mereka bukan merupakan aktivitas buddha, apa yang terjadi dengan para buddha? Mereka tidak memiliki pikiran maha tahu? Mereka tidak memiliki kekuatan sempurna untuk membawa saya menuju pencerahan? Mereka tidak memiliki kasih sayang?

Ini adalah cara untuk bermeditasi dan menganalisa. Dengan cara ini, kalian dapat sampai pada kesimpulan bahwa semua guru adalah buddha. Dari sisi kalian, kalian membuat kesimpulan ini.

Karena itu, mereka sangat baik, bermanifestasi dalam aspek biasa, memiliki semua delusi, penderitaan dan tindakan yang salah untuk dicocokan dengan pikiran saya yang salah, jadi saya bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka; mereka bisa melakukan beragam aktivitas, seperti memberikan saya bimbingan, inisiasi dan seterusnya. Mereka bisa melakukan hal ini untuk saya hanya dalam aspek biasa.

Mereka sangatlah baik; sangat berharga, bermanifestasi seperti ini, dalam aspek memiliki kesalahan. Aspek ini menunjukan kesalahan adalah yang paling berharga dalam hidup saya, karena melalui aspek ini, semua buddha dapat berkomunikasi dengan saya dan membimbing saya menuju pencerahan. Aspek biasa ini sangatlah berharga dalam hidup saya.

Tanpa aspek biasa yang memanifestasikan penderitaan, kesalahan, dan seterusnya, hidup saya akan kehilangan arah; saya akan kehilangan arah; tanpa bimbingan, seperti bayi yang ditinggalkan sendiri di padang pasir panas atau ditinggalkan dalam kegelapan, dalam hutan tanpa bulan yang dipenuhi dengan hewan yang liar, dan jahat.

Bayangkan menjadi bayi yang ditinggalkan sendiri seperti itu; berapa banyak ketakutan dan bahaya yang ada. Hanya seperti itu, tanpa aspek memanifestasikan kesalahan, saya akan kehilangan arah, tanpa bimbingan.

Tampak dalam aspek memiliki kesalahan adalah satu-satunya cara guru saya, semua buddha, dapat berkomunikasi dengan saya. Ini adalah satu-satunya cara saya dapat berkomunikasi dengan mereka. Jadi mereka sangat baik kepada saya, memanifestasikan aspek memiliki kesalahan.

Ini adalah teknik Lama Tsongkhapa, dimana kalian menggunakan bahkan kesalahan yang kalian lihat dalam diri guru kalian untuk mengembangkan pengabdian pada guru. Kalian melihat guru kalian sebagai buddha dan kalian melihat guru kalian sebagai buddha.

Pabongka Rinpoche merujuk pada teknik khusus Lama Tsongkhapa ini pada penjelasannya yang ekstensif mengenai pengabdian pada guru, dimana kalian tidak hanya merefleksikan kualitas guru untuk mengembangkan pengabdian pada guru, akar dari jalan menuju pencerahan, tetapi juga menggunakan kesalahan yang kalian lihat dalam diri guru kalian untuk mengembangkan dalam pikiran kalian pengabdian pada guru dan menerima berkat pengabdian pada guru. Berkat yang kalian terima membantu kalian untuk mendapatkan kesadaran dari jalan menuju pencerahan.

Seorang lama berkata dalam ajarannya, sampai kalian bebas dari pencemaran dan karma negatif, bahkan bila semua buddha turun langsung dihadapanmu, kalian tidak akan memiliki keberuntungan untuk melihat tubuh suci yang pertanda suci dan contoh; kalian hanya akan memiliki pandangan yang sekarang.” “Pandangan sekarang, atau persepsi, berarti pandangan yang datang dari pikiran kalian yang biasa dan tidak murni.

Logikanya di sini diilustrasikan dengan cerita Devadatta (Legpa’i Karma), murid Buddha, yang melayani Guru Buddha Shakyamuni selama dua-puluh-dua tahun. Walaupun menolong Buddha selama dua-puluh-dua tahun, dia tidak pernah melihat Buddha Shakyamuni sebagai Buddha; dia tidak pernah melihat sisi kualitasnya. Dia selalu melihat Buddha sebagai pembohong, dia melihatnya sebagai memiliki kesalahan.

Karena Devadatta tidak memiliki pikiran maha tahu dan kemampuan meramal, bilamana Sang Buddha memberikan ramalan, dia akan berpikir bahwa dia berbohong. Suatu ketika, ketika sang Buddha sedang berkeliling untuk meminta-minta, seorang anak perempuan memberikan makanan di mangkuk pengemisnya dan Sang Buddha memprediksi, “karena karma memberikan persembahan ini, di masa depan kau akan menjadi Buddha seperti ini.” Saya tidak yakin buddha yang mana yang diprediksi, tetapi ribuan buddha dalam jaman keberuntungan ini.

Tetapi Devadatta berpikir sang Buddha membuat hal besar dari persembahan kecil ini dan memujinya dengan maksud tertentu. Tetapi ini adalah yang sering dilakukan Sang Buddha, karena dia memiliki pikiran maha tahu dan dapat melihat masa depan yang jauh hasil dari karma.

Tetapi Devadatta tidak mengetahui hal ini dan selama bertahun-tahun melayaninya, dia tidak melihat kualitas baik apapun dan hanya menganggap Sang Buddha sebagai pembohong. Walaupun sang Buddha tercerahkan banyak kalpa yang lalu, Devadatta tidak melihatnya sebagai makhluk tercerahkan, hanya makhluk biasa yang dipenuhi kesalahan.

Karena itu, dalam stanza pertama dari Fondasi Semua Kualitas Yang Baik, Lama Tsongkhapa berkata,

Fondasi semua kualitas yang baik adalah guru yang baik dan mulia;

Pengabdian yang benar kepadanya adalah akar dari jalan. Dengan melihat hal ini dan mengaplikasikan usaha yang besar; Tolong berkati saya untuk mengandalkannya dengan rasa hormat yang besar.

Alasan Lama Tsongkhapa menekankan usaha yang besar dalam melihat guru sebagai buddha tidak datang dari sisi obyek, sang guru; hal ini harus datang dari pikiran kalian, dan memerlukan usaha besar.

Juga, dalam teks lam-rim Nektar Esensial, dikatakan [bait 122],

Karena itu, semua ini sepertinya adalah aspek yang salah
Dari tindakan guru saya harus merupakan salah satu
Hanya persepsi saya yang salah dari karma negatif,
Atau secara alternatif, manifestasi yang disengaja.

Seperti yang dikatakan, kalian melihat proyeksi dari pikiran kalian yang biasa dan salah atau manifestasi disengaja untuk memberikan manfaat bagi diri kalian dan makhluk hidup yang lain. Jadi, ada cara lain untuk berpikir; bahwa guru kalian memanifestasikan kesalahan dengan disengaja.

Jadi, sekarang, setelah penjelasan yang panjang ini, ini adalah dimana kalian membawa guru lain yang mempraktekan pelindung; kemudian mudah untuk mengerti. Satu sisi – ini adalah pandangan pikiran kalian yang salah – satu cara untuk melihatnya adalah seperti itu. Cara yang lain adalah untuk berpikir bahwa mereka dengan sengaja bermanifestasi dengan cara ini, menunjukan kesalahan, karena ini adalah satu-satunya cara mereka dapat berkomunikasi dengan kalian, membimbing kalian menuju pencerahan. Jadi kalian bisa berpikir salah satu dari ini

Karena itu, bila kalian berpikir seperti ini, kalian tidak memiliki masalah. Kalian tidak perlu mengkritik guru dengan siapa kalian telah memiliki hubungan Dharma dan siapa yang mempraktekan pelindung. Dengan cara ini, kalian akan menghindari konflik dalam pikiran kalian dan akan melindungi diri kalian dari menghancurkan pengabdian pada guru.

Sumber: http://www.lamayeshe.com/index.php?sect=article&id=227

Not only that, but by having compassion, you benefit numberless other sentient beings by bringing them into great liberation, the non-abiding sorrowless state of full enlightenment, which is total cessation of not only the gross, but even the subtle mistakes of mind, the subtle defilements; the subtle negative imprints left by the disturbing thought, the simultaneously-born ignorance, grasping at the I, the aggregates and all other phenomena as inherently existent, the subtle negative imprint that projects the hallucination, the dual view, of inherently-existent appearances. The cessation of all this is the great liberation.

Thus, by developing compassion, you collect extensive merit, and through that you are also able to develop wisdom and cease all the defilements. In this way, you are able to bring all sentient beings into the peerless happiness of full enlightenment.

Thus, you can see how you can bring all these various levels of happiness to other sentient beings. So whether or not numberless sentient beings receive all this happiness from you is in your own hands; it depends upon what you do with your mind.

It’s up to what you do with your mind—whether you generate the good heart, loving kindness-compassion, towards all the sentient beings or not. Therefore, every one of us has complete responsibility for all the happiness of sentient beings from this life’s temporary happiness up to that of full enlightenment.

Fulfilling this responsibility to bring happiness and benefit to other sentient beings is the purpose of your life, the reason you are alive. In order to liberate the numberless sentient beings from all their suffering and its cause, and bring them all happiness up to that of full enlightenment; to accomplish such perfect work for all sentient beings, first you need to achieve full enlightenment yourself.

In order to be able to heal all the sicknesses of others, to give them the happiness of freedom from disease, you need to be a fully qualified doctor, knowing how to diagnose illness and what all the various treatments are.

In the same way, then, to free others from all suffering and its cause and lead them to the peerless happiness of enlightenment, first you need to become fully enlightened yourself. Of course, getting enlightened doesn’t happen without cause—you have to actualize the path to enlightenment.

Therefore, without creating the cause, completing the general path, you cannot achieve enlightenment. Also, the path you actualize has to be an unmistaken path; if it’s a mistaken path, you cannot achieve enlightenment.

Furthermore, you have to complete that unmistaken path. Just having a few realizations isn’t enough for you to achieve enlightenment. You have to complete all the realizations of the path to enlightenment.

Now, achieving full enlightenment depends on actualizing the graduated path of the being of greatest capacity. That depends on actualizing, as a preliminary, the path of the being of intermediate capacity and the common graduated path. And that depends on actualizing, as a preliminary, the path of the being of lowest capacity and the common graduated path.

Success from the beginning of the path—the graduated path shared in common with the being of least capacity, which starts with realization of the perfect human rebirth, this precious human body qualified by eight freedom and ten richnesses—all the way up to the end, enlightenment, depends on the root of the path to enlightenment, first analyzing prospective gurus and, having found the right one, correctly devoting yourself to him through thought and action.

In his commentary to the Fifty Verses of Guru Devotion, Lama Tsongkhapa explained the different qualities of the guru according to the various teachings he quotes (see The Fulfillment of All Hopes, Wisdom Publications, 1999, p. 41 ff. See also Geshe Ngawang Dhargye’s commentary here: http://www.lamayeshe.com/otherteachers/dhargyey/index.shtml).

According to one explanation, the guru should [1] have stable devotion in the Mahayana teachings, [2] be learned in the different levels of the teachings—the Lesser Vehicle, Paramitayana and tantra—[3] be skillful and wise in guiding disciples along the path to enlightenment, [4] have strong compassion for others and [5] be subdued in his three doors of body, speech and mind. One set of five qualities is explained like that.

Then, in his Mahayanasutralamkarakarika, Maitreya Buddha explained the ten qualities of a Mahayana guru. The first three he mentioned were having his three doors [1] subdued, [2] pacified and [3] highly pacified.

The first one means the higher training in morality—abstaining from vice, protecting himself from creating negative karma. The second one, pacified, means having controlled his mind, his disturbing thoughts, through having developed shamatha, the realization of calm abiding; in other words, having the higher training in concentration. The third one, highly pacified, means having the realization of great insight, emptiness; the higher training in wisdom.

The fourth of the ten qualities is [4] having greater knowledge and higher qualities than the disciple. He should also [5] have perseverance and [6] his holy mind should be enriched with scriptural understanding and the lineage of the teachings. He should [7] have realized emptiness.

Even though this realization has already been mentioned as the third quality, here it specifically means having the realization of emptiness according to the view of the Prasangika, the highest of the four schools of Buddhist philosophy. The previous mention of great insight meant the realization of emptiness according to any of the Buddhist schools; here it means specifically the Prasangika view.

The remaining three qualities are [8] skill in explaining Dharma, [9] compassion for the students and [10] never feeling too discouraged or upset to explain Dharma, to guide and benefit the disciples. Anyway, if there’s strong compassion, there’s no way a mind feeling lazy or too tired to guide the disciples can arise.

Also, as it is mentioned in the Guru Puja (Lama Chöpa) and other texts, there are further qualities of the guru who reveals the tantric teachings—the ten outer qualities of the guru who teaches the lower tantras and the ten inner qualities of the guru who teaches Highest Yoga Tantra.

However, the very essence of all these qualities is that the guru should emphasize cherishing others. If the guru does not exhort the students to cherish others, it becomes an obstacle to their developing a good heart and actualizing bodhicitta, the realization required to enter the Mahayana path to enlightenment.

But if the guru does not emphasize that, at least he should emphasize liberation from samsara, attainment of ultimate, everlasting happiness. And if not that, at the very least he should emphasize that the happiness of future lives is more important than the happiness this life. That is the very bottom line—it is more important to work for happiness of future lives than for the happiness of this life.

If the teacher does not emphasize this, the disciples’ attitude for practicing Dharma will not become Dharma. Whatever they do—meditation, retreat, any other activity—there’s danger that they will waste their whole life.

Whatever they do will not become Dharma, will not become virtue. Everything they do will be done with pure attachment, pure non-virtue, seeking only happiness of this life. Whatever the student does—meditation, prayer, all twenty-four hours’ activities—becomes non-virtue, negative karma.

That’s the danger of having a guru who does not teach the importance of working more for future lives than this. You can waste your entire life if your teacher doesn’t emphasize detachment from the pleasures of this life and to work for long-run happiness, the happiness of all the coming future lives; not just one future life’s happiness but that of all future lives.

So, whether the teacher is ordained or lay, the very essence is who emphasizes these things, especially bodhicitta. In that way, the teacher is able to bring the disciple to enlightenment.

By emphasizing liberation from samsara, the teacher can bring the disciple to liberation. By emphasizing letting go of attachment, not clinging to this life, and emphasizing to work for happiness of all the coming future lives, the teacher allows the disciple to achieve happiness in future lives. This is how various teachers guide their disciples.

The other fundamental quality that a teacher needs is to emphasize ethics, morality. In that way, the teacher is able to guide the disciple away from negative karma and protect the disciple from creating negative karma, the main obstacle to achieving enlightenment, liberation from samsara and the happiness of future lives.

It is important, therefore, at the beginning, before making a Dharma connection with a teacher, to analyze that person well. After thinking well, then establish a Dharma connection. The tantric teachings explain that in degenerate times such as these, it is difficult to find a teacher that has all the qualities as they are explained in the teachings.

If that is so, still, your teacher should have eight of them, or five, or at least four. At least the teacher should possess the basic qualities that I mentioned before. This will help you avoid trouble in future, avoid creating very heavy negative karma, such as rising heresy, anger, many negative thoughts, and also, after having made a connection, giving up. Checking carefully will help you avoid all these dangers.

The Meaning of Guru

The holy mind of all the buddhas, the Dharmakaya, the transcendent wisdom of non-dual bliss and void, which is eternal, which has neither beginning nor end, which pervades all existence—that is the real meaning of guru.

When you think of your guru, when you visualize your guru, when you see your guru, when you hear you guru, this is what we should come into your heart and mind. When, in your daily life, you see, hear, visualize or remember your guru, the real meaning, or understanding, should come into your heart. The word is guru, but the real meaning is that.

When you have a stable realization of guru devotion, always in your heart, your recognition of guru is that. From the side of the disciple who has a stable realization of guru devotion, when you see or think of Buddha, it’s your guru.

There’s no other Buddha; there’s no Buddha separate from your guru. You don’t see that. Your realization is the oneness of guru and Buddha. Even when you visualize yourself as Buddha, it’s guru. Because you’re the deity, the guru. Even when you visualize the deity in front of you, it’s the guru. This understanding is in your heart.

Even when you see statues and thangkas, you think, “My guru has manifested in these forms to allow me to purify my mind and collect merit.”

Also, this is such an easy way of purifying and creating merit. It does not depend on your generating virtuous motivation; it happens without your mind becoming Dharma.

Even if your motivation is not Dharma, just by seeing, circumambulating, prostrating to, making offering to these holy objects, immediately your actions become the cause of enlightenment, liberation from samsara, happiness for hundreds of thousands of future lives.

If that’s so, then there’s no question that that powerful merit also affects this life. Since you purify so much negative karma, of course it reduces the problems of this life—relationship problems, sicknesses, cancer; all such things.

However, simply by existing, these holy objects make it so easy for us sentient beings to create merit and purify our minds. With most other activities, first we have to put great much effort into making our minds Dharma — pure, unstained by ignorance and attachment and, in particular, the self-cherishing thought. Only after we make a great effort can our actions become virtue and result in happiness. In that way, we have to work hard for happiness.

But the existence of holy objects makes it easy for us sentient beings to purify our heavy negative karmas and collect extensive merit, creating the space in our mind that enables us to gain the realizations of the path to enlightenment.

The thing to understand or realize here is that all these holy objects exist through the kindness of the guru. That they make it so easy to purify negative karma and defilements, gain realizations and freedom from the ocean of samsaric suffering and achieve enlightenment is due to the kindness of the guru manifesting in this way.

You can understanding or realize this by understanding that the meaning of the guru is Dharmakaya, the holy mind of all the buddhas—all these holy objects happened through the kindness of guru manifesting in these aspects to liberate you from samsara and bring you to enlightenment.

If the absolute guru, the Dharmakaya, all the buddhas’ holy mind, manifests in an aspect more pure than I am able to see, in an aspect more pure than my karma allows me to see, I cannot see that aspect until I make my mind purer than it now is.

At present, your mind is so heavily obscured that even though Guru Shakyamuni Buddha, Nagarjuna, Lama Tsongkhapa and all the other great enlightened beings have explained the complete path and that there’s no inherently existent I — there’s no real I, in the sense existing from its own side, there’s no such thing; that such a thing is totally non-existent; that I is totally non-existent, empty, right there, from where it is appearing, from where it is appearing as a real one, existing from its own side, it is totally non-existent; it is totally non-existent right there, totally empty right there — even though all those great enlightened beings explained that by analyzing you cannot find that I, it is totally empty, still you cannot see, cannot realize, the truth of this. Even though that’s the reality, your mind cannot see it; you are unable to see that is totally empty.

Similarly, all these sense objects do not have the slightest even atom of inherent existence either. They, too, are totally empty. But you cannot see even that emptiness.

Even though all causative phenomena are in the nature of impermanence, they do not last for even a minute or a second, are in a constant state of decay, you cannot see or realize them as such. You are so obscured that you cannot see what’s going to happen tomorrow, in an hour’s time hour, even in a minute’s time. With respect to such things, your mind is totally dark.

Even if you have some sickness in the body, you have to go to hospital to get x-rayed to see it. You can’t even see the back of your own body. As His Holiness Song Rinpoche often used to say when talking about reincarnation, just because you don’t see it doesn’t mean it doesn’t exist. You cannot use your not seeing something as a reason for its not existing. For example, he would say,

You can’t see the back of your head. Does that mean it doesn’t exist?

Anyway, your mind is heavily obscured. There are numberless phenomena that exist but you can’t see. Therefore, all the buddhas’ holy mind, the absolute guru, bound with infinite compassion that embraces you and all other sentient beings, manifests in an ordinary aspect, which by definition has delusions, a suffering body, mistaken actions and so forth.

The Dharmakaya manifests like this and through this aspect gives commentaries, oral transmissions, vows — pratimoksha, bodhisattva and tantric — initiations and tantric teachings. In Tibet, we used to say that if you are learning the alphabet order to study Dharma, the person who teaches you the alphabet is also a guru, a manifestation of the Dharmakaya.

Even one verse of oral transmission, one stanza of teaching, can definitely brings you to enlightenment. By leaving a positive imprint, it can cause you to understand the teachings and realize the aspect of the path it contains; that verse can cease certain defilements and bring you to enlightenment. That one verse of oral transmission given by that guru definitely brings you to enlightenment. Therefore, there’s no question that other, more extensive teachings do so too.

Therefore, the meditation to do at this point is to think, If these are not the actions of Buddha, guiding me to enlightenment, then there’s no other action I could point to as that of Buddha liberating me from suffering and bringing me to enlightenment.

So, these are definitely Buddha’s activities; activities of the Dharmakaya. This is one reason to use in meditation, to realize that these actions are those of the Buddha; for you to realize from your own side, from the side of the disciple, that these are Buddha’s actions.

Also think, “If any of these gurus are not Buddha, because I see them as ordinary, because I see faults in them” — you might see small faults in some and great faults in others, but you see faults in all of them. Then, if none of these gurus are buddha, if they are ordinary beings, if these are ordinary beings who are bringing me to enlightenment, what are the buddhas doing?

They’re not doing anything; the buddhas are just keeping quiet. The buddhas not doing anything for me but these ordinary beings are being so beneficial by doing all these activities, such as giving teachings, vows and so forth, all those things that definitely bring me to enlightenment. These ordinary beings are bringing me to enlightenment but the buddhas are doing nothing to bring me to enlightenment. That’s the conclusion you have to come to.

Then you make the mistake of thinking, What’s up with the buddhas? What’s wrong with them? If none of these teachers are buddha and their activities are not buddha activities, what’s happened to the buddhas? They don’t have omniscient mind? They don’t have the perfect power to bring me to enlightenment? They don’t have compassion?

This is the way to meditate and analyze. In this way, you actually come to the conclusion that every one of your gurus is buddha. From your own side, you make that determination.

Therefore, they are extremely kind, manifesting in an ordinary aspect, having all the delusions, suffering and mistaken actions that exactly fit my mistaken mind, so that I can see and communicate with them; that they can do all the various activities, such as giving me guidance, teachings, initiations and so forth. They can do this for me only in an ordinary aspect.

They are extremely kind; so precious, manifesting like this, in an aspect having faults. This aspect showing faults is most precious in my life, because through this aspect, all the buddhas can communicate with me and guide me to enlightenment. This ordinary aspect is the most precious thing in my life.

Without this ordinary aspect manifesting suffering, faults and so forth, my life would be totally lost; I’d be totally lost; guideless, like a baby left alone in a hot desert or left in a dark, moonless jungle filled with wild, vicious animals.

Imagine being a baby left alone like that; how much fear and danger there would be. Just like that, without this aspect manifesting faults, I’d be completely lost, guideless.

Appearing in the aspect of having faults is the only way my gurus, all buddhas, can communicate with me. This is the only way that I can communicate with them. So, they are extremely kind to me, manifesting in this aspect of having faults.

This is Lama Tsongkhapa’s technique, where you use even the faults you see in your guru to develop guru devotion. You look at your guru as buddha and you see your guru as buddha.

Pabongka Rinpoche refers to this special technique of Lama Tsongkhapa in his extensive commentary on guru devotion, where you not only reflect on the qualities of the guru to develop guru devotion, the root of path to enlightenment, but also use the faults you see in the guru to develop your mind in guru devotion and receive the blessings of guru devotion. The blessings you receive help you gain realizations of the path to enlightenment.

One lama said in his teachings, Until you are free of defilements and negative karma, even if all the buddhas were to descend directly in front of you, you will not have the fortune to see the supreme holy body adorned the holy signs and exemplifications; you will have only your present view.” “Present view, or perception, means the view that comes from your ordinary, impure mind.

The logic here is illustrated by the story of Devadatta (Legpa’i Karma), Buddha’s disciple, who served Guru Shakyamuni Buddha for twenty-two years. Despite helping Buddha for twenty-two years, he never saw Shakyamuni Buddha as Buddha; he never looked at him from the side of his qualities. He always saw Buddha as a liar, he saw him only as having faults.

Because Devadatta didn’t have an omniscient mind or clairvoyance, whenever Lord Buddha would make prophesies, he’d think he was lying. Once, when the Buddha was on his alms round, one girl out food in his begging bowl and the Buddha predicted, “Due to the karma of this offering, in future you will become such and such Buddha.” I’m not sure which buddha was predicted, but one of the thousand buddhas of this fortunate age.

But Devadatta thought Lord Buddha was making a huge deal out of this little offering and praising her with some kind of ulterior motivation. But this was Lord Buddha often did, because he had an omniscient mind and could see even the far-distant future results of karma.

But Devadatta didn’t know that and for all the years he served him, didn’t see any good qualities and simply labeled Lord Buddha a liar. Even though Lord Buddha was enlightened inconceivable eons ago, Devadatta didn’t see him as an enlightened being, only an ordinary being riddled with faults.

Therefore, in the first stanza of his Foundation of All Good Qualities, Lama Tsongkhapa says,

The foundation of all good qualities is the kind and venerable guru;

Correct devotion to him is the root of the path. By clearly seeing this and applying great effort, Please bless me to rely upon him with great respect.

The reason that Lama Tsong Khapa stresses great effort is that seeing the guru as buddha doesn’t come from side of the object, the guru; it has to come from your own mind, and that takes great effort.

Also, in the lam-rim text Essential Nectar, it says [verse 122],

Therefore, all these apparently faulty aspects
Of my gurus’ actions must be either
Just my mistaken perception from negative karma,
Or alternatively, a deliberate manifestation.

As it says, the faults you see are either a projection of your own ordinary, mistaken mind or intentional manifestations for the benefit of yourself and other sentient beings. So, that’s another way to think; that your gurus manifest faults on purpose.

So, now, after this lengthy explanation, this is where you bring in those other gurus who practice the protector; then it’s easy to understand. One way—it’s the view of your mistaken mind—one way to think is like that. The other way to think is that they have purposely manifested in that way, showing faults, because it’s the only way they can communicate with you, guide you to enlightenment. So you can think either way.

Therefore, if you think like this, you’ll have no problem. You don’t have to criticize the gurus with whom you already have a Dharma connection and who practice the protector. In this way you’ll avoid conflict in your mind and will protect yourself from destroying your devotion.

 

Visitors

We have 34 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013